Minggu, 13 Mei 2012

Memadukan Penelitian Ekonomi dan Sosiologi

Kasus pada Penelitian Tata Niaga Hasil Pertanian
(disusun oleh: SYAHYUTI)


Kekurangjelasan peran dan tanggungjawab antara peneliti berlatar belakang ilmu ekonomi (pertanian) dengan sosiologi di PSE, telah menyebabkan hasil penelitian kurang optimal. Untuk itu, perlu ditumbuhkan sikap seluruh peneliti untuk menyadari dan menerima “perbedaan” antara kedua bidang tersebut. Tulisan berikut ingin memberikan pembenaran kenapa antara ekonomi dan sosiologi perlu dipadukan, dan bagaimana pula memadukannya.

Bahwa faktor-faktor ekonomi, politik, dan budaya amat sulit dipilah, digambarkan dengan baik oleh pengalaman teori dan praktek. Sajogyo, pensiunan Gurubesar sosiologi perdesaan IPB, pada rekfleksi kariernya bulan Desember 2003, menuturkan kembali pertukaran pikirannya dengan David Penny (alm), ekonom pertanian dari Australia, sebagai berikut:

Jika Anda ingin mengerti perekonomian negeri kami, kajilah kebudayaan dan sistem politik kami; jika ingin memahami kebudayaan dan sistem politik kami, kajilah perekonomian kami (Sajogyo, 2003:1).

Dari pernyataan ini tidak diragukan bahwa pengajaran ilmu ekonomi sebagai monodisiplin tidak mampu menjadikan siswa memahami apalagi memecahkan masalah-masalah kongkrit yang dihadapi masyarakat-bangsa Indonesia. Dengan perkataan lain ilmu ekonomi hanya akan efektif sebagai pisau analisis jika digunakan bersama ilmu-ilmu sosial lain termasuk dan terutama ilmu politik, ilmu budaya, dan etika.  

Dulu Ekonomi dan Sosiologi Menyatu

q  Sesungguhnya ilmu ekonomi dan sosiologi dulu menyatu dan juga berkembang secara bersamaan, karena ilmu ekonomi adalah bagian dari dunia sosial (Granvetter dan Swedberg, 1992). Berbagai tokoh, seperti Max Weber dan Karl Max misalnya, diaku sekaligus sebagai ekonom dan juga sosiolog.

q  Adam Smith dalam bukunya “Wealth of  Nation”, mengatakan bahwa tak ada bentuk yang berbeda antara topik ekonomi dan sosial. Sementara itu Max Weber yang dikenal sebagai tokoh sosiologi  adalah juga pendiri ilmu economic sociology, selain August Comte dan Durkheim. Weber menjadikan ekonomi sebagai interest utamanya, sebagaimana ia lakukan dalam analisis misalnya kajian hubungan industrial. Tulisan Weber yang penting dalam hal ini terlihat dalam buku “Economic and Society”  dan “General Economic History”.

q  Sosiologi memiliki minat lebih luas dari sekedar ekonomi (bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya secara materi). Namun, di PSE, yang dibutuhkan secara lebih banyak adalah penelitian sosiologi tentang ekonomi. Yaitu, bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dilihat dari konteks sebagai makhluk sosial yang multi dimensi. Artinya, sosiologi melihat manusia sekaligus dalam dimensi sosial, budaya, politik,  dan ekonomi.

q  Ilmu ekonomi dan sosiologi sepakat, bahwa perilaku ekonomi adalah suatu tipe perilaku dengan memilih alat yang terbatas dengan berbagai alternatif penggunaan. Menurut  Damsar (1996), sosiologi ekonomi  memperhatikan tindakan ekonomi sejauh ia mempunyai dimensi sosial dan selalu melibatkan makna serta berhubungan dengan kekuasaan. Sementara menurut Schumpeter, bahwa sosiologi ekonomi berkaitan dengan konteks institusional dari ekonomi.

q  Selama ini telah berbagai strategi dimunculkan untuk memperpadukan ilmu ekonomi dan sosiologi, yaitu aliran-aliran Rational Choice Sociology, New Economic Sociology, Socio-Economics, Psycho-Socio-Anttropo-Economics (=PSA-Economics), dan Transaction Cost Economics. Melalui New Institutional Economics ekonomi melihat ke dalam aspek institusi dan mencoba untuk mengintegrasikan institusi ke dalam analisis mereka. Melalui inilah tercipta ruang bagi dialog antara para ahli imu ekonomi dan sosiologi.

Kenapa Harus Menyatu?

q  Sosiologi perlu dilakukan secara bersamaan dengan ekonomi, karena (Granvetter dan Swedberg, 1992):

1.     Economic action is a form of social action (perilaku ekonomi merupakan bentuk dari perilaku sosial),

2.     Economic action is a socially situated (terjadi dalam situasi sosial), dan

3.     Economic institution are social construction (kelembagaan ekonomi terkontruksi secara sosial).

q  Untuk PSE, ekonomi dan sosiologi sebaiknya dipadukan dengan beberapa alasan di antaranya adalah:

1.     Secara mandat, PSE diharuskan melakukan kajian sosial-ekonomi. Secara keorganisasian, staf PSE terdiri atas peneliti berlatarbelakang ekonomi (pertanian) dan sosiologi (pedesaan).

2.     Dengan memadukan, maka akan diperoleh pemahaman yang lebih lengkap, terutama penelitian di aras mikro dan meso. Berbagai penelitian yang hanya dengan pendekatan ekonomi selama ini dikeluhkan tidak mampu memahami dan memberi solusi yang implikatif dan memuaskan.

3.     Banyak perilaku ekonomi masayarkaat yang tidak terjawab secara memuaskan, terutama dalam hal kelembagaan pertanian di pedesaan. Misalnya adalah naiknya harga-harga menjelang hari raya padahal bukan karena faktor supply, juga berfluktuasinya harga di tingkat produsen untuk komoditas karet dan lada padahal di hilir tidak demikian.

Sosiologi yang Mana?

q  Kata “sosial” saat ini setidaknya diberi dua makna yang saling berseberangan. Pertama, sosial dalam konteks ilmu sosial, yaitu seluruh ilmu yang mempelajari interaksi antar manusia, termasuk ilmu politik, antropologi, psikologi sosial, sosiologi, dan ekonomi. Kedua, adalah sesuatu yang “anti ekonomi”, yaitu segala perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk mencari untung dan memupuk kekayaan, sebagaimana melekat pada kata “berjiwa sosial”, “Panti Sosial”, dan “Departemen Sosial”. Banyak orang mencampuradukkan kedua kata ini, sehingga sosiologi sebagai salah satu bentuk ilmu sosial dianggap sebagai ilmu yang anti ekonomi, anti kemajuan, dan anti kemodernan.

q  Dari begitu luas bidang kajian sosiologi, maka yang dibutuhkan di PSE adalah cabang sosiologi yang mempelajari perilaku ekonomi masyarakat. Atau lebih kurang adalah apa yang disebut dengan SOSIOLOGI EKONOMI. Yaitu, ilmu sosiologi yang membantu menjelaskan perilaku ekonomi, bagaimana agar ekonomi desa bersaing, bagaimana mencapai kesejahteraan, dan lain-lain.

q  Untuk menjelaskan itu semua, sosiologi memandang manusia sebagai makhluk yang multidimensi dan dihargai secara utuh. Manusia tidak hanya memiliki motivasi ekonomi (untung, efisien, kaya), namun memiliki dimensi-dimensi lain bahwa manusia juga punya motivasi, jiwa, orientasi hidup, etika, estetika, dunia batiniah, harga diri, hubungan transedental dengan Tuhan, dan lain-lain.  Sosiologi ingin melihat bagaimana seluruh faktor ini mempengaruhi sikap dan perilaku ekonominya.

q  Maka menurut levelnya, bidang-bidang sosiologi yang relevan diterapkan adalah sosiologi mikro, sosiologi keluarga, sosiologi kelompok; bukan sosiologi makro dengan grand theories-nya. Maka aspek yang akan dilihat adalah masalah tata nilai, norma sosial, kepemimpinan, keberadaan kelompok-keleompok sosial, kelas sosial, perubahan sosial, struktur sosial, kewirausahaan, jaringan sosial, dan lain-lain.

q  Jadi, sosiologi yang diperlukan di PSE adalah “sosiologi kontemporer” dibandingkan “sosiologi klasik”. Lebih kepada “sosiologi terapan” dibandingkan “sosiologi teoritis”. Juga akan menerapkan bentuk-bentuk baru penerapan ilmu sosiologi dalam konsep-konsep pembangunan yang misalnya dikembangkan dalam  konsep community development, capacity building, pembangunan berdimensi kerakyatan, pembangunan berkelanjutan, empowerment, dan lain-lain.

Bentuk Tim Penelitian

q  Memadukan penelitian ekonomi dan sosiologi, berbeda dengan memadukan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Namun, khusus untuk PSE, pemaduan penelitian ekonomi yang kuantitatif dengan penelitian sosiologi yang kualitatif merupakan kombinasi yang paling baik. Penelitian kualitatif dapat melengkapi kelemahan penelitian ekonomi yang cenderung deduktif.

q  Upaya untuk mengintegrasikan penelitian kuantitatif dan kualitatif, pada pokoknya berpayung kepada prinsip triangulation. Kombinasi kuantitatif dan kualitatif dapat terjadi pada semua tahap, mulai dari metode, paradigma, hipotesa, pengambilan data, analisa data, sampai kepada penulisan hasil penelitian. Ada 5 tujuan yang dapat dicapai dengan mengintegrasikan penelitian kuantitatif dan kualitatif menurut Creswell (1994), yaitu: untuk mendapatkan hasil yang konvergen, bersifat saling melengkapi (complementary), saling mengembangkan (developmentally) karena metode kuantitatif dapat membantu metode kualitatif dan sebaliknya, bersifat inisiasi,  serta sekaligus merupakan ekspansi karena meluaskan scope studi.

q  Selanjutnya menurut Creswell, ada tiga model kombinasi yang dapat dipilih dalam pengintegrasian ini, yang menunjukkan tingkat integrasi yang semakin kuat.

1.     Desain 2 tahap. Tahap penelitian kuantitatif dilakukan secara terpisah dengan tahap penelitian kualitatif. Hal ini memiliki keuntungan, dimana dua paradigma yang berbeda dapat berjalan bersama, namun kerugiannya pembaca laporan menjadi bingung.

2.     Desain dominant-subordinant. Disini salah satu harus mengalah, misalnya rancangan kuantitatif lebih dominan dan kualitatif tidak. Desain ini sering dipakai di PSE. Dalam pelaksanaannya, para peneliti yang berlatar belakang ekonomi menerapkan bentuk penelitian ekonomi-kuantitatif yang menggunakan metode eksperimen dengan testing korelasi variabel,  sedangkan interview sosiologi-kualitatif dilakukan secara minor. Keuntungan dari desain ini adalah paradigma yang digunakan tetap dapat konsisten meskipun si peneliti kualitatif akan merasa kurang puas.

3.     Desain metodologi campuran. Ini yang paling terkombinasi dibanding dua desain sebelumnya. Pencampuran ini sudah terjadi mulai dari paradigma yang digunakan, review literatur, teori-teori yang dipakai, serta tujuan dan pertanyaan penelitian sampai kepada analisis data dan penulisan laporan. Artinya disini dilakukan metode pencampuran deduktif (kuantitatif) dan induktif (kualitatif) sekaligus.

q  Sosiolog dapat masuk ke bidang ekonomi, misalnya ke jantungnya ekonomi yaitu pasar. Sosiologi dapat menggunakan pendekatan jaringan sosial untuk memahami pasar.

Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

q  Kata “kualitatif” menunjuk terjadinya penekanan kepada proses dan makna yang tidak diperoleh dengen menguji atau mengukur  secara jumlah (quantity), intensitas, ataupun frekwensi[i]. Penelitian kualitatif menuntut hubungan dua arah sebagai hubungan subyek-suibyek (intersubyektifitas), dan data-data yang bersifat gayut nilai. Jadi, penelitian kualitatif tidak semata-mata mengutamakan hubungan kausal antar varaibel, namun lebih berfokus kepada proses. Dengan semangat induktif, maka kebenaran ilmiah adalah hasil kesepakatan antara peneliti dan pihak yang diteliti (tineliti).

q  Penelitian kualitatif berbeda secara diametral dengan penelitian kuantitatif dalam segala aspek-aspeknya. Sifat-sifat penelitian kualitatif adalah induktif, naturalistik, subyektif, holistik, humanistik, aposteriori, fleksibel, dan validitas. Sedangkan penelitian kuantitatif bersifat deduktif, manipulatif, obyektif, reduktif, mekanistik, apriori, baku, dan reliabilitas. Prinsip validitas dalam penelitian kualitatif misalnya adalah suatu kesahihan yang diukur dari kesesuaian antara yang dikatakan dan diperbuat tineliti, bukan dari korelasi statistik yang kuat antar variabel belaka yang dapat saja karena kebetulan.

q  Karena tuntutan etikanya, penelitian kualitatif cenderung beraras mikro, namun mendalam, terperinci, dan kaya. Dalam konteks itu, penelitian kualitatif tidak berpretensi pada keterwakilan. Karena itu, studi kasus adalah pilihan yang tepat dengan segala kebutuhannya. Untuk dapat membuat “generalisasi” maka dapat dilakukan studi kasus multi lokasi.

q  Penelitian kualitatif  menggunakan pendekatan yang sangat berbeda, mulai dari rancangan penelitian sampai dengan penulisan laporan.[ii] Rancangan penelitian kualitatif bersifat retropektif  dan luwes sehingga terbuka terhadap perubahan di lapangan. Walaupun terbuka terhadap perubahan namun mesti memiliki arah yang jelas. Sampel dapat purposif, karena yang penting adalah keterwakilan aspek permasalahan.

q  Berbeda dengan penelitian kuantitatif, ia dapat hanya menggunakan hipotesa pengarah yang menghubungkan antar dua konsep, bukan hipotesa uji yang menghubungkan dua variabel secara kuantitatif. Beberapa strategi penelitian kualitatif yang mungkin untuk penelitian kelembagaan misalnya studi kasus dan  studi historik. Penelitian studi kasus menerapkan beragam metode misalnya dengan menerapkan metode wawancara, pengamatan, dan analisis dokumen (prinsip triangulasi). Studi kasus merupakan satu strategi dalam penelitian kualitatif. Ia dapat dipilih bila pokok pertanyaan berkenaan dengan bagaimana (how) dan mengapa (why), bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata[iii].

q  Penelitian kualitatif juga dapat berbentuk studi historik dengan melakukan penafsiran dokumen-dokumen tentang masa lampau, maupun wawancara untuk me-recall ingatan pelaku maupun informan. Studi historik merupakan bentuk penelitian yang penting, karena berdasarkan asumsi bahwa gejala sosial harus dipelajari dalam konteks historisnya.

q  Dalam pengumpulan data dapat mengetengahkan data secara deskriptif terhdap gejala-gejala yang dihadapi dalam konteksnya yang alami (natura setting)[iv]. Data dapat diperoleh dengan pendekatan intersubjektivitas melalui hubungan partisipatif.

q  Menurut John Lofland (dalam Sitorus, 1998) dalam pengumpulan data kualitatif perlu diperhatikan empat hal berikut: (1) peneliti kualitatif  harus cukup dekat dengan orang-orang dan situasi yang diteliti, sehingga dimungkinkan pemahaman mendalam dan rinci tentang apa yang sedang berlangsung; (2) peneliti kualitatif harus berupaya menangkap apa yang secara aktual terjadi dan diakatakan orang; (3) data kualitatif terdiri dari sekumpulan besar uraian murni mengenai berbagai orang, kegiatan, dan interaksi sosial, dan; (4) data kualitatif terdiri dari kutipan langsung dari berbagai orang, yaitu dari apa yang mereka katakan dan tulis. Untuk saling menutupi kekurangan satu metode maka lazim digunakan prinsip triangulasi, baik triangulasi data, triangulasi peneliti, triangulasi teori, dan triangulasi metodologi.

q  Dalam pengumpulan data harus menggunakan catatan harian, yang berfungsi sama dengan kuesioner dalam penelitian kuantitatif. Catatan harian memiliki fungsi yang sangat pokok. Biasanya terdiri dari topik, nara sumber, waktu dan tempat wawancara, dan isi yang terbagi menjadi bagian deskriptif dan bagian reflektif.

q  Dalam pengolahan data,  menurut Miles dan Huberman (1992), ada tiga jalur analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data. Proses ini berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung. Kegiatannya adalah meringkas hasil wawancara (data), mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat pratisi, dan menulis memo. Artinya disini dilakukan pengorganisasian data melalui penajaman dan penggolongan data, untuk mengarahkan ke tujuan penelitian.

q  Selanjutnya, penyajian data adalah bagaimana menyusun data sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penarikan kesimpulan. Penyajian dapat dilakukan dengan bentuk teks naratif, matriks, grafik, serta jaringan dan bagan.

q  Terakhir, penarikan kesimpulan diperoleh setelah sebelumnya si peneliti mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Proses penarikan kesimpulan telah dimulai secara kasar semenjak penelitian dimulai, dengan terus menerus memikir ulang selama penulisan, meninjau ulang catatan lapang, tukar pikiran dengan teman sejawat dan juga tineliti. Uraian dapat dilakukan secara prosesual dengan saling menghubungkan antar kejadian sosial.

q  Satu hal yang juga khas dalam penelitian kualitatif adalah pada penulisan laporan. Proses penulisan laporan sudah dimulai semenjak di lapangan sampai akhir penelitian. Karena itulah penelitian kualitatif memerlukan waktu lebih lama di lapangan, untuk melakukan verifikasi serta memperoleh “kesepakatan” intersubyektif dengan tineliti. Dengan itu, akan dimungkinkan untuk melihat lobang-lobang dalam laporannya. Jika penelitian bergabung dengan penelitian kuantitatif, maka setelah data kuantitatif diolah akan dapat menjadi bahan diskusi dengan kesimpulan-kesimpulan yang sudah sudah dibuat dari data kualitatif.

q  Jelaslah bahwa memadukan penelitian ekonomi dan sosilogi dalam penelitian kelembagaan dan organisasi pertanian adalah salah satu strategi yang cukup beralasan. Meskipun tidak menutup kemungkinan, penelitian dengan hanya pendekatan ilmu sosiologi juga dapat dilakukan untuk melakukan kajian kelembagaan.

q  Disamping itu, peneliti yang berlatar belakang sosiologi, dapat pula menggunakan bentuk penelitian kualitatif baik dalam posisi pelengkap dalam penelitian yang lebih bersifat ekonomi maupun dalam penelitian tersendiri. Artinya ia dapat tugas khusus, mulai dari pencantuman bagian materinya dalam proposal, menggunakan catatan harian sebagai pengganti kuesioner, dan menulis laporan secara bersama-sama untuk memperkuat analisa kuantitatif. Namun untuk tim peneliti yang khusus peneliti sosiologi, maka dapat merancang proposal secara khusus, melakukan kegiatan lapang, serta menulis laporan dengan prinsip-prinsip penelitian kualitatif secara penuh.

q  Meskipun demikian, penelitian kelembagaan tidak selalu harus menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, karena dapat juga menggunakan metode sosiologi kuantitatif (berkembang di AS).

Memadukan Pendekatan Ekonomi-Kuantitaif dan Sosioolgi Kualitatif dalam Penelitian Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian

Ekonomi
Sosiologi
1. Mempelajari perilaku benda untuk memprediksi perilaku manusia
1. Mempelejari perilaku manusia yang diikat oleh benda-benda (=komoditas pertanian)
2. Objek terbatas namun dalam
2. Objek luas namun dangkal.
3. Mengutamakan kehandalan informasi dengan sampel yang memadai
3. Mengandalkan kepada kualitas informasi, meskipun dengan data n terbatas.
4. Mencari hubungan-hubungan dan memprediksi apa yang akan terjadi.
4. Memahami dan menjelaskan tanpa pretensi untuk memprediksi
5. Rancangan penelitian bersifat deduktif dan tertutup. Variabel dan indikator sudah bisa ditebak dari awal, dan cenderung tidak berubah. Tidak ada variabel baru yang akan diambil di lapangan.
5. Rancangan penelitian bersifat induktif dan terbuka. Peneliti belum tahu persis akan menemukan apa. Variabel baru, indikator baru dapat dipakai jika dirasa perlu.
6. Pemilihan sampel telah ditetapkan sejal awal, jumlah dan jenisnya
6. Rencana sampel awal masih dapat berubah. Yang penting adalah pengetahuan dan kemampuan responden memberikan informasi yang relevan.
7. Data kuantitatif merupakan andalan pokok. Semakin banyak jawaban semakin kuat.
7. Data kuantitatif merupakan titik masuk untuk menggali data kualitatif sebagai andalan. Jawaban yang kuat tidak harus banyak kasus.
8. Rasio matematis
8. Rasio dengan menonjolkan kualitas fakta, meskipun hanya 1-2 kejadian
9. Pengolahan data dan penulisan laporan dilakukan belakangan.
9. Data diolah mulai dari lapangan, termasuk menulis laporan penelitian.



Objek Perhatian Peneliti Ekonomi dan Sosiologi dalam Penelitian Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian (=Kelembagaan Pemasaran)

q  Studi kelembagaan melihat tata aturan yang hidup, yang analisis ekonomi dapat mengukurnya apakah itu ekonomis, atau bagaimana ia menjadi lebih eknomis. Jadi sesungguhnya penelitian ekonomi dan sosiologi kelembagaan saling melengkapi kekurangannya masing-masing. Dengan memadukan penelitian kuantitatif dalam bidang ekonomi dan kualitatif untuk sosiologi, dimana beberapa variabel didalami secara kuantitatif dan variabel lain dieksplorasi secara kualitatif, maka banyak keuntungan yang akan diperoleh.

q  Dari sisi sudut pandang ekonomi, fungsi utama kelembagaan adalah agar tercapai efisiensi dalam bertindak. Menurut Bromley, kelembagaan “…… persist us to carry on our daily lives with a minimum of repetition and costly negotiation”[v]. Suatu tindakan menjadi ekonomis, karena telah ada pedoman dalam bertindak (prdictable). Pelaku ekonomi tak akan bertindak secara acak, namun mengikuti pola yang sudah disepakati. Itulah gunanya kelembagaan yang salah satu fungsinya  adalah pedoman bertindak bagi anggota-anggotanya.

q  Dapat dikatakan, bahwa pada “studi kelembagaan” -lah terjadi integrasi antara sosiologi dan ekonomi. Studi kelembagaan memenuhi syarat untuk itu karena kelembagaan bersifat muti aras. Karena itu, studi kelembagaan bersifat multi disiplin dan multi metodologi. Sifat muti disiplin adalah karena ia dapat menjadi pertemuan para ekonom dan sosiolog, sementara sifat multi metodologinya adalah karena penelitiannya bisa dilakukan dengan metode survey untuk penelitian ekonomi serta observasi berperan (participatory observation), serta studi dokumen yang biasa digunakan dalam penelitian-penelitian sosiologi.

q  Penelitian ekonomi mempelajari gejala kelembagaan, sedangkan sosiologi mempelajari penyebab timbulnya gejala tersebut.

q  Berbagai hal yang dipelajari oleh peneliti berlatar belakang ekonomi biasanya adalah:

1.     Struktur pasar, sistem pasar, dan keterpaduan pasar.

2.     Demand, elastisitas demand, dan estimasi demand.

3.     Suplai, elastisitas suplai, dan market supply.

4.     Harga, struktur harga, analisis harga.

5.     Margin pemasaran, biaya pemasasran, efisiensi pemasaran, resiko pemasaran, dan strategi pemasaran.

6.     Standarisasi dan grading.

q  Objek penelitian sosiologi adalah manusia dan perilakunya. Sosiologi bertolak dari premis dasar bahwa manusia memiliki nilai, norma, sikap, kesenangan, kebutuhan yang beragam, perasaan, sentimen, etika, estetika, aspek religi, dan lain-lain. Artinya, seorang pedagang tidak semata-mata hanya mempertimbangkan efisiensi dan keuntungan  saja dalam berinteraksi.

q  Karena itu, maka bidang sosiologi, khususnya kelembagaan pemasaran,  dapat menggali hal-hal berikut. Kelembagaan akan sampai kepada dua aspek, yaitu aspek kelembagaan (nilai, norma, aturan, kesepakatan) dan aspek keorganisasian (struktur, peran).

Berkaitan dengan tata nilai.

  1. Bagaimana seluruh pelaku (petani dan pedagang) memaknai hidupnya? Apakah mereka bertanam sayur dan berdagang karena terpaksa? Apa pekerjaan yang sesungguhnya mereka inginkan? (Pertanyaan ini penting untuk melihat misalnya level kewirausahaan dan potensi untuk berkembang di masa depan. Apakah mungkin mereka link dengan pola pemasaran modern dan ekspor misalnya?)
  2. Apakah pekerjaan berdagang dianggap jalan hidup yang baik? (Di Jawa dulu berdagang dianggap pekerjaan rendah)
  3. Apakah mereka dapat menemukan keselarasan antara pekerjaan yang ditekuni dengan nilai-nilai religius dari agama yang mereka anut?
  4. Bagaimana mereka memaknai ekonomi desanya? Apakah kemajuan ekonomi dilihat dalam konteks untuk menuju ekonomi desa yang beraing dan mandiri? Adakah tujuan yang lebih hakiki dari kemajuan ekonomi itu sendiri? Apakah kemajuan ekonomi merupakan alat atau tujuan akhir?
  5. Bagaimana sikap mereka terhadap alam dan segala sumberdaya yang dimiliki dan dianugerahi kepadanya? Apakah semata-mata hanya alat ekonomi? Apakah perlu dijaga? Bagaimana dengan tanah: apakah tanah semata-mata hanya direduksi menjadi komoditas ekonomi? (Sikap yang mudah melepaskan tanah untuk memperoleh modal telah menyebabkan petani kehilangan tanahnya dan dimiliki oleh pedagang yang punya uang. Akibatnya mereka tergantung kepada pedagang selamanya).
  6. Bagaimana konsep mereka tentang “kerja”? (Hal ini akan berimplikasi kepada bagaimana etos kerja yang dikembangkan).

Berkaitan dengan sistem norma.

1.     Bagaimana norma yang dijalankan, apakah murni berdasar pertimbangan efisiensi dan keuntungan? Apa yang disebut dengan “keuntungan yang layak” dalam penentuan harga dari seorang pedagang?

2.     Tentang solidaritas. Bagaimana pedagang memandang petani? Apakah sebagai manusia impersonal sebagai pemasok belaka, sebagai asset yang harus dijaga eksistensinya, ataukah dipandang sebagai manusia yang sederajat?

3.     Bagaimana sentimen keluarga, etnis, atau se daereah asal dalam berinteraksi? Apakah ini dipertimbangkan dalam berdagang?

4.     Dengan pedagang selevel. Apakah pedagang slevel hanya dilihat semata-mata sebagai saingan? Adakah sikap saling membantu?

5.     Dengan pedagang vertikal.  Bagaimana menjaga hubungan antara pedagang pengumpul desa dengan pedagang pengumpul besar? Adakah hubungan hutang piutang? Berapa lama dan berapa besar hutang masih dianggap wajar? Bagaimana jika tidak membayar dalam tempo yang seharusnya?

6.     Tentang reward dan punishment. Tiap kelembagaan selalu memiliki ini. Apa bentuk terimakasih yang diberikan atau perlakuan-perlakuan berbeda yang ditunjukkan jika rekan dagang telah melakukan sesuai kesepakatan? Dan sebaliknya?

7.     Tentang harga. Bagaimana harga ditentukan? Apakah semata-mata didasarkan kepada harga pasar, atau ada sentimen lain? Apakah harga untuk langganan berbeda?

8.     Tentang konflik. Apakah konflik sering terjadi? Bagaimana bentuknya, antara siapa? Bagaimana solusi yang digunakan?

Berkaitan dengan keorganisasian.

1.     Rantai tata niaga baru menggambarkan aliran barang. Bagaimana rantai tersebut terbentuk secara historik? Kenapa rantainya mesti panjang atau pendek? Adakah sentimen-sentimen non-pasar yang mempengaruhi terbentuknya?

2.     Bagaimana stuktur kekuasaan? Dari seluruh level, dimana kekuasaan berpusat? Di hulu, di tengah, atau di hilir?

3.     Bagaimana struktur modal? Apakah modal yang besar selalu merepresentasikan kekuasaaan yang besar? Apakah aliran permodalan dapat menggambarkan faktor-faktor kohensi sosial?

4.     Bagaimana posisi petani dan pedagang terhadap pemerintah? Dan bagaimana “posisi” lokasi yang kita kaji dengan sentra produksi dan sentra perdagangan lain?

5.     Apakah peran masing-masing dijalankan? Dapatkah mereka bertukar peran? Bagaimana “prosedur” seseorang dapat masuk menjadi pedagang? Artinya, apakah kelembagaan ini bersistem terbuka atau tertutup?

q  Selain itu, ada data-data penting yang harus dikumpulkan yang tidak dapat diklasifikasikan apakah termasuk kedalam bidang ekonomi atau sosiologi, yaitu:
1.     Kondisi sarana dan prasarana transportasi.
2.     Informasi pasar
3.     Kebijakan pemasaran
4.     Keagrariaan
5.     Permodalan

******



[i] Denzim dan Lincoln, 1994. hal. 4-6.
[ii] Lihat buku Sitorus, 1998.
[iii] Lihat Robert K. Yin, 1997. hal 1.
[iv] Bogdan dan Taylor, 1975. hal 4; dan Denzim dan Lincoln, 1994. hal. 4.
[v] Bromley, 1993.

Selasa, 27 Desember 2011

Gampang-Gampang Susah Mengorganisasikan Petani

Buku Baru: "GAMPANG-GAMPANG SUSAH MENGORGANISASIKAN PETANI: Kajian Teori dan Praktek Sosiologi Lembaga dan Organisasi". Penerbit IPB Press, Bogor. Desember 2011 (sedang proses percetakan)



Kata Pengantar

Satu kekacauan yang terus berlangsung, namun akrab digeluti tiap hari adalah tentang penggunaan konsep dan teori ”lembaga” dan ”organisasi”. Kekacauan ini tidak hanya berlangsung di kalangan pemerintah, mulai dari Menteri sampai penyuluh pertanian; namun juga di kalangan akademisi. Bahkan, di luar sana, pada dunia internasional, hal ini juga terjadi. Konsep ”institution” dan ”organization” baru dua puluh tahun terakhir saja mulai dibedakan secara tegas. Sejak dulu, kedua objek ini tidak pernah clear. Sebagian menggunakan secara timbal balik (intercangeable), sebaguan menganggap sama, atau sebagian tidak sadar menggunakan konsep yang mana untuk pengertian apa.

Semenjak tahun 1992, di PSEKP telah dibentuk Kelompok Peneliti Kelembagaan dan Organisasi Pertanian. Beberapa orang peneliti sosiologi di dalam kelompok ini telah berupaya keras untuk merumuskan konsep, menjalankan penelitian, dan menulis laporan serta menyusun rekomendasi tentang bagaimana semestinya membangun petani dan pertanian melalui pendekatan bidang ilmu ini. Cukup besar harapan yang ditumpangkan pada kelompok ini.

Setelah belasan kali penelitian dijalankan, berbagai seminar dan diskusi digelar, serta beberapa dokumen disusun; buku ini berupaya merangkum seluruh perkembangan yang telah dijalankan, dan tugas yang sudah ditunaikan. Sejajar dengan perkembangan yang juga berlangsung paralel di dunia internasional; maka Kami merasa penting untuk menyusun buku ini sebagai bentuk tanggung jawab kepada negara yang telah memberi sekian milyar dana penelitian, kepada petani dan narasumber yang telah rela diwawancara, dan publik yang telah lama menanti-nantikan.

Inilah, sebuah buku yang disusun dengan segala daya yang ada mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk semua. Buku ini dapat juga disebut sebagai ”penebusan dosa” saya selama ini dalam berbagai tulisan yang sering juga membuat bingung para publik pembaca. Pada banyak tulisan saya sebelumnya, termasuk tulisan-tulisan orang lain yang saya edit, penggunaan kedua konsep tersebut tidak sebagaimana dalam buku ini.

Penggunaan istilah ”institution” pada literatur berbahasa Inggris, ataupun istilah ”lembaga” dan ”kelembagaan” dalam literatur berbahasa Indonesia cenderung tidak konsisten dan tidak memperoleh pengertian yang sama antar ahli. Selain itu, penggunaan konsep ini seringkali bercampur dengan konsep ”organization”. Hal yang sama juga terjadi pada literatur berbahasa Indonesia, antara istilah ”lembaga, ”kelembagaan” dan ”organisasi”. Kekeliruan yang paling sering adalah menerjemahkan ”institution” menjadi ”kelembagaan”, sedangkan ”lembaga” dimaknai persis sebagai ”organisasi”.

Berdasarkan penelusuran referensi yang berkembang, semenjak era sosiologi klasik sampai dengan munculnya paham kelembagaan baru (new institionalism), maka ada tiga bagian pokok yang ada dalam lembaga, yaitu aspek normatif, regulatif, dan kultural-kognitif. Pendekatan kelembagaan dipandang lebih sesuai untuk organisasi dalam masyarakat (public sector organizations) karena lebih sensitif terhadap harapan normatif dan legitimasi.

Buku ini menjadi penting, karena sampai saat ini, konsep dan strategi pembentukan dan pengembangan berbagai organisasi di level petani misalnya (kelompok tani, koperasi, Gapoktan, dan lain-lain), belum memiliki konsep yang berbasiskan kepada kebutuhan dan kemampuan petani itu sendiri, namun bias kepada kebutuhan pihak “atas petani”. Untuk itu, buku ini berupaya memberikan peringatan dan arahan kepada semua pihak khususnya bagaimana organisasi yang aplikatif untuk untuk menjalankan agribisnis.

Selama Bimas, pengembangan organisasi menggunakan konsep cetak biru (blue print approach) yang seragam. Hal ini cenderung menghasilkan kegagalan. Pengembangan organisasi di tingkat petani cenderung parsial dan temporal. Ke depan, setidaknya perlu diperhatikan tiga aspek dalam pengembangan kelembagaan petani (tidak sekedar organisasi), yaitu konteks otonomi daerah, prinsip-prinsip pemberdayaan, dan kemandirian lokal.

Buku ini menggunakan bahasa yang poluler dan disusun secara sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan, tidak hanya komunitas ilmiah (dosen dan peneliti), tapi juga kalangan birokrasi dan pelaksana di lapangan. Pihak yang akan memperoleh manfaat terbesar dengan membaca buku ini adalah kalangan yang bergerak dalam pembangunan pertanian dan pedesaan secara langsung yaitu para penyuluh pertanian dan kalangan penggiat di NGO misalnya; serta kalangan penyusun perencanaan dan pengambil kebijakan di tingkat nasional dampun lokal.

Bahan berasal dari berbagai literatur berupa buku, jurnal maupun hasil penelitian (termasuk penelitian penulis sendiri) berkenaan dengan pengembangan organisasi-organisasi di tingkat petani.Untuk memahami berbagai pengetahuan terbaru tentang bidang ini, dilakukan review dengan mengandalkan literatur dari luar. Sementara untuk kasus-kasus, digunakan hasil-hasil riset di Indonesia ditambah kasus lain yang dipandang mirip dengan konteks sosial ekonomi dan kultur petani Indonesia.

Bogor, Desember 2011
Penulis

(Syahyuti)



Daftar Isi

Bab I. Pendahuluan

Bab II. REKONSEPTUALISASI TEORI LEMBAGA DAN ORGANISASI
Subbab 2.1. Ketidakkonsistenan konsep di level akademisi
Subbab 2.1. Ketidakkonsistenan Istilah dalam Produk Legislasi Pemerintah
Subbab 2.3. Perumusan istilah dan rekonseptualisasi “lembaga dan organisasi” yang lebih operasional
Subbab 2.4. Pendekatan Kelembagaan Baru
Subbab 2.5. Konsep dan Teori Organisasi, serta Interaksinya dengan Kelembagaan

Bab III. KONDISI DAN PRAKTEK PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI
Subbab 3.1. Strategi dan Pola Pengembangan Organisasi Petani di Indonesia
Subbab 3.2. Intervensi negara berupa organisasi formal dan ”perlawanan” petani.
Subbab 3.3. Pengaruh Kultur Pasar Dalam Pembentukan Organisasi Petani
Subbab 3.4. Lokalitas dan Kemandirian
Subbab 3.5. Organisasi untuk Pemenuhan Permodalan
Subbab 3.6. Organisasi untuk menjalankan pemasaran
Subbab 3.7. Penyuluhan untuk Membentuk dan Menggerakkan Organisasi
Subbab 3.8. Pengorganisasian Petani untuk Kegiatan Anti Kemiskinan
Subbab 3.9. Mengorganisasikan Perempuan Petani

Bab IV. KUNCI-KUNCI PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI
Subbab 4.1. Faktor Waktu serta Pilihan Organisasi dan Konfigurasi Organisasi
Subbab 4.2. Pengembangan Gapoktan sebagai Intergroup Associaton
Subbab 4.3. Koperasi sebagai Organisasi Multiperan Untuk Petani Kecil
Subbab 4.4. Berbagai pertimbangan yang digunakan petani untuk berpartisipasi dalam organisasi formal
Subbab 4.5. Kepemimpinan: Dilema Antara Aktor Versus Organisasi
Subbab 4.6. Partisipasi dan Peran Pihak luar
Subbab 4.7. Mitos tentang Bantuan Uang
Subbab 4.8. Organisasi dan Social Capital
Subbab 4.9. Pengorganisasian sebagai Upaya Pemberdayaan
Subbab 4.10. Organisasi untuk Menjalankan Tindakan kolektif
Subab 4.11. Efektivitas Sanksi dalam Organisasi

Bab V PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN BARU
Subbab 5.1. Konfigurasi dan Pilihan yang Dihadapi Petani dalam menjalankan Usaha Pertanian
Subab 5.2. Langkah-Langkah dan Prinsip Pembentukan dan Pengembangan Organisasi Petani
Subbab 5.3. Organisasi Hanyalah Alat, Bukan Tujuan
Subbab 5.4. Pengembangan Teori dan Praktek Lembaga dan Organisasi dalam Kerangka Ilmu Sosial

Daftar Pustaka
Lampiran







Kamis, 24 November 2011

Peta Pemikiran LEMBAGA (institution) dan ORGANISASI (organization)

Peta Pemikiran LEMBAGA (institution) dan ORGANISASI (organization)  menurut  Perspektif SOSIOLOGI

Dari berbagai literatur, maka secara sederhana, ini dibagi atas EMPAT kelompok besar pemikiran sebagai berikut. Untuk gambar yang lebih baik, boleh hubungi saya di email: syahyuti@yahoo.com terima kasih

Berbagai istilah terkait lembaga dan organisasi

Pembaca awam akan kesulitan jika membaca literatur berbahasa Inggris. Perkembangan yang berlangsung berkenaan dengan institution dan organization jauh lebih cepat dibandingkan dengan wacana di Indonesia. Berikut berbagai istilah umum berkenaan dengan “organisasi” yang saya coba jelaskan dengan bahasa sendiri.

organization = secara sederhana bisa didefinisikan sebagai “….assembly of people working together to achieve common objective through a division of labour.”  Untuk mengefektifkan hidupnya, manusia  dengan sadar  dan keinginan sendiri membentuk organisasi, lalu berkomitmen  bersama-sama mencapai tujuan dengan mengikuti aturan yg disepakati. Meskipun dalam masyarakat ada reward dan sanksi, disini reward dan sanksi lebih tegas. Mereka bisa membuat reward dan sanksi tersendiri. Sesungguhnya tanpa berorganisasipun, dalam masyarakat sudah ada pedoman dalam berperilaku, karena sudah ada nilai, norma, aturan dan saknsi. Inilah yang disebut dengan “institution” (lembaga).  Jadi, dengan lembaga saja, petani sudah dapat menjalankan usahanya. Namun, jika membuat organisasi, diharapkan akan lebih efektif dan sistematis.
farmer organizations = istilah untuk menyebut organisasi yang anggotanya adalah petani, dibentuk dan dikembangkan oleh petani sendiri. Istilah ini dipakai untuk membedakan dengan organisasi milik warga lain di pedesaan, misalnya organisasi yang angotanya kalangan perempuan (woman organization).
individual organization = organisasi yang anggotanya berupa orang-orang secara individually. Contohnya adalah kelompok tani, KWT, dan koperasi primer.
inter-group associations = organisasi yang levelnya di atas individual organization. Ia mengkoordinasikan, melayani, dan mewakili seluruh kebutuhan individual organization ke luar. Contohnya adalah Gabungan Kelompok Tani, Induk Koperasi, dan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam program PNPM Mandiri. Anggotanya bukan orang-orang secara individual, namun organisasi.
small farmer groups (SFGs) = organisasi yang anggotanya petani yang lemah secara ekonomi, karena rendahnya penguasaan sumberdaya, terutama sempitnya penguasaan lahan. Organisasi ini memiliki karakter yang khas, dan akan sangat berbeda dengan organisasi yang anggotanya lebih bervariasi dari sisi level ekonomi. “Spontaneity is an important characteristic of such groups”. Ini adalah organisasi milik petani yang bersifat informal, dan merupakan kelompok yang niat pokoknya untuk saling membantu secara sosial (voluntary self-help group). Anggotanya biasanya 5 sampai 15 petani kecil yang biasanya tinggal berdekatan.
Small Farmer Group Association (SFGA): sama dengan intergroup association, menunjuk pada organisasi milik petani pada level lokal, berbentuk informal, serta bersifat voluntary dan mandiri (self-governing). Ia diciptakan dan didanai dengan kemampuan anggotanya sendiri. Anggota mau masuk untuk tujuan melayani diri mereka sendiri dan berharap dapat meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Ia dapat disebut sebagai organisasi level kedua ("secondary level") dari small farmer groups. Ada empat peran pokoknya, yaitu koordinasi dan pelatihan, pembelian input dan sarana usaha, penjualan hasil-hasil produk, dan simpanan serta pelayanan kredit. Jumlah organisasi optimal untuk diwadahi berjumlah 5 sampai 10 unit.
group promoters = kelompok pendukung. Adalah sejumlah orang atau pihak yang dengan posisi dan perannya membantu, secara langsung maupun tak langsung, kinerja organisasi petani. Mereka dapat berupa para pemimpin desa (pemerintah, agama, dan adat) dan berbagai agen perubahan (change agents) dari luar, misal petugas penyuluh, instansi Pemda, dan LSM. Mereka memliki kontak langsung dengan organisasi petani dan perduli untuk mengembangkan organisasi milik petani. Selama ini kita sering menyebutnya dengan stakeholders.
inter-group services = sama dengan group promoters, dimana mereka berusaha melayani seluruh kebutuhan individual organization dan intergroup association.
inter-organizational linkages = kesalinghubungan antar organisasi, misalnya apa relasi dan kerjasama yang terbangun antar dua Gapoktan di satu wilayah. Dalam konteks ini bisa dilihat apakah ada konflik di antara mereka, bagaimana efektivitas dan output dari relasi tersebut, dan seterusnya.
commodity organizations = organisasi petani yang basisnya adalah kesamaan komoditas yang diusahakan. Di Indonesia kita mengenal kelompok peternak dan kelompok petani ikan. Anggotanya ekslusif hanya para petani peternak domba saja misalnya, tidak dicampur dengan petani lain.
community-based and resource-orientated organization = dapat berbentuk koperasi di level desa atau asosiasi berkenaan dengan pemenuhan input oleh petani, dan kelompok pemilik sumber daya (resource owners) untuk meningkatkan produktivitas dan dan bisnis mereka berdasarkan lahan, air, atau hewan. Organisasi ini biasanya kecil, dibatasi secara geografis, dan umumnya berkaitan dengan masalah input. Namun kliennya (client group) sangat beragam dalam konteks tanaman dan komoditas. Pendapatannya diperoleh dari penjualan input (ke anggota) dan output.
commodity-based and market-orientated organization = organisasi petani yang basisnya karena melakoni pekerjaan yang sama, misalnya sama-sama mengusahakan tanaman sayuran, dan organisasi mereka berorientasi pasar. Organisasi dibentuk lebih untuk membantu anggota dalam memasarkan hasil pertaniannya.
organizational memory = memori organisasi, kadang-kadang digunakan untuk merefer pada apa yang eksis saat ini dalam social conventions, individuals, memories, dan lain-lain. Dapat juga dimaknai sebagai kapasitas baru organisasi. Pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki menjadi pelajaran penting untuk menjalankan organisasi saat ini dan ke depan. Organizational Memory System (OMS) sering dipertentangkan dengan Knowledge Management System (KMS).
credit union = sebuah lembaga kerjasama yang menyediakan pinjaman untuk anggotanya dengan suku bunga yang lebih rendah. Tujuannya adalah menyediakan kredit dengan suku bunga yang menyenangkan untuk anggota dibandingkan penyedia kredit lain. Seringkali, credit unions merupakan sebuah koperasi yang menggunakan dana dari anggota sendiri (funds deposited) yang dipinjamkan kepada yang membutuhkan. Contohnya adalah Koperasi Simpan Pinjam (KOSIPA). Arisan bukan merupakan CU karena tidak mengenal bunga, dan hanya giliran memperoleh uang tunai yang disetor oleh masing-masing anggota. Tidak ada nilai tambah berupa uang yang tercipta. Anggota CU terbatas hanya pada individu-individu yang berada pada area geografis tertentu atau karena kriteria tenaga kerja tertentu.
self-help organization = secara definisi adalah organisasi yang berupaya mandiri tanpa bantuan pihak luar. “……. the act of helping or improving yourself without relying on anyone else”. Istilah self-help” merefer kepada individu atau kelompok apapun, misalnya berupa support group, yang berupaya mencapai kondisi yang lebih baik bagi hidup mereka dari sisi ekonomi, intelektual, dan juga emosional.
self-organization adalah sebuah organisasi dengan upaya, strategi, atau tekad untuk mandiri. Esensial dari sebuah Self-Organisation adalah bahwa struktur sistemnya tidak berada di bawah tekanan atau kendali dari luar. Dengan demikian, jika ditemui kendala dan permasalahan, mereka akan mencarikan solusinya dari internal sistem belaka. Mereka bersikap bahwa apapun yang terjadi adalah akibat dari interaksi antar komponen di dalam organisasi itu sendiri, bukan dari luar. Mereka berupaya menyelesaikan sendiri masalahnya. Bukan berarti mereka menolak sama sekali bantuan luar, namun itu bukan pilihan pokoknya (critical point). Ini bisa dimaknai sebagai prinsip. Maka, sebuah organisasi yang memegang prinsip self organization, berupaya mengembangkan dirinya dengan memfokuskan ke dalam. Makin lama semakin menguat kemampuan organisasinya, karena kuatnya struktur dan keberfungsian tiap komponen di dalam dirinya.
mutual organization = adalah sebuah organisasi kerjasama (cooperative organization) yang umumnya berupa perusahaan atau usaha bisnis yang didasarkan kepada prinip-prinsip mutualitas atau kesalinguntungan. Contohnya dalah clubs. Organisasi ini ada karena tujuan tertentu misalnya untuk mengumpulkan dana, dari keanggotaan atau pelanggan suatu produk, yang dapat digunakan untuk menyediakan pelayanan yang bersifat umum untuk seluruh anggotanya. Organisasi ini dimiliki oleh anggota dan dijalankan untuk kepentingan anggota, sehingga tidak ada pihak luar yang terlibat. Di level petani, Credit Unions bekerja dengan prinsip mutualitas ini.
organizational performance = kinerja organisasi. Setiap organisasi akan berusaha untuk mencapai tujuannya yang disesuaikan dengan sumber daya yang dimilikinya. Kinerja organisasi yang baik (“good performance”) adalah apabila semua bagian organisasi bekerja secara benar, efektif, dan efisien, untuk mencapai tujuan tersebut. Kinerja organisasi dapat dipelajari dengan memperhatikan seberapa efektif organisasi bergerak maju menuju misi dan tujuannya sendiri, bagaimana kinerja organisasi dalam hal pencapaian tujuan utama (major achievements), tingkat produktifitas organisasi dalam kaitannya dengan misi dan nilai-nilai dalam organisasi, dan daya guna produk-produknya (utilization of results); serta seberapa efisien organisasi dalam menuju misinya dan bagaimana ketersediaan dan dukungan keuangan dalam organisasi.
 organizational motivation = motivasi organisasi. Tidak ada dua organisasi yang sungguh-sungguh serupa.  Setiap organisasi memiliki sejarah perkembangan yang berbeda, juga visi, misi, kultur, serta sistem insentif dan penghargaannya (reward system). Level motivasi organisasi dapat dilihat dari sejarah organisasi, misi organisasi, kultur organisasi (the organization’s culture), serta sistem insentif  dan penghargaan yang berlaku di dalamnya.
organization’s culture = kultur organisasi, yakni bagaimana sikap organisasi (seluruh orang dalam organisasi) secara umum terhadap “kerja”, sikap terhadap kolega (colleagues), klien, atau stakeholders yang berkepentingan dengan organisasi; kepercayaan terhadap nilai-nilai yang dimiliki, serta norma-norma dalam organisasi yang mendasari dan menjadi pedoman dalam berjalannnya organisasi.
organizational capacity = kapasitas keorganisasian. Kapasitas yang dimiliki organisasi menjadi basis tempat berdirinya kinerja organisasi. Kapasitas organisasi dapat dipahami melalui kekuatan dan kelemahan strategi kepemimpinan (strategic leadership) dalam organisasi, manajemen keuangan, struktur keorganisasian, sarana dan prasarana yang dimiliki, sistem perekrutan, serta proses atau dimensi sumberdaya manusia, program dan manajemen pelayanan, manajemen proses, dan hubungan antar organisasi (inter-organizational linkages).
*****