Kamis, 28 Oktober 2010

Komunikasi efektif kampus dan petani

Relasi yang Berkualitas mampu Memproduksi Pengetahuan Bersama yang Lebih Aplikatif

Sumber tulisan: Art Dewulf, Marc Craps, RenĂ© Bouwen, Felipe Abril and Mariela Zhingri. 2005. How Indigenous Farmers and University Engineers Create Actionable Knowledge for Sustainable Irrigation. http://arj.sagepub.com/cgi/content/abstract/3/2/175. Action Research Volume 3(2): 175–192. Copyright© 2005 SAGE Publications London, Thousand Oaks CA, New Delhi. www.sagepublications.com

Latar Belakang, Tesis dan Metode

Tujuan penting dalam pelaksanaan riset aksi (action research) adalah memproduksi pengetahuan praktis (practical knowledge) yang berguna untuk kehidupan sehari-hari secara langsung. Berbagai lembaga internasional memang memiliki pengetahuan yang kuat, namun tidak berhasil dalam mengantarkan (delivering) atau menciptakan (creating) pengetahuan yang dapat dijalankan (actionable or ‘implementable validity’) untuk pemecahan maslaah sehari-hari.

Perhatian yang krusial dalam aksi riset adalah tentang keberlanjutan (sustainability). Perbedaan antara pelaku (stakeholders) dalam konteks kekuasaan, pengetahuan dan sumber daya merupakan kendala penting yang menghalangi terjadinya kerjasama yang sejati. Biasanya, pihak pemerintah memiliki agenda dan target sendiri. Karena itulah hampir tidak ditemukan dalam proyek-proyek yang kolaboratif ini dimana mulai dari analisa masalah, penetapan tujuan, pelaksanaan dan evaluasi bisa menggunakan pendekatan basis komunitas (community-led). Untuk membuat pengetahuan menjadi berguna (actionable) pertanyaan yang harus dijawab adalah siapa yang terlibat, komunitas mana yang terlibat, dan siapa berinteraksi dengan siapa?

Dalam studi ini penulisnya menceritakan hasil sebuah riset aksi bagaimana pengetahuan yang bermanfaat dan tepat (actionable knowledge) berhasil diciptakan dan dibangun antara komunitas petani pengguna air dengan pihak luar, yang dalam hal ini adalah pihak universitas dan NGO. Universitas dalam posisi sebagai pencipta teknologi dalam program pengelolaan irigasi berkelanjutan, dan diwadahi dan didampingi oleh NGO. Bagaimana organisasi irigasi lokal (indigenous irrigation organization), sebuah NGO, dan sebuah universitas sebagai sentra rekayasa keteknikan (university engineering center) bekerja bersama-sama menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana mengelola irigasi secara berkelanjutan. Projek ini awalnya adalah merupakan sebuah pendekatan untuk mendesain perangkat lunak (software) yang sesuai secara umum untuk kemudian ditransmisikan secara bertahap menjadi sebuah manajemen melalui pendekatan riset aksi yang partisipatif (iterative participatory action research approach).

Studi Art Dewulf dkk. ini dilakukan di bagian selatan Equador. Di Equador, semenjak pertengahan 1990-an pemerintah telah berupaya mentransfer pola manajemen irigasi dari sebelumnya pemerintah ke masyarakat lokal. Setiap organisasi petani bertanggung jawab untuk mengelola pengairan bagi 1000 sampai 1200 hektar lahan sawah. Di saat bersamaan, sebuah universitas tertarik dalam pengembangan software untuk membantu manajemen yang kompleks dari pengelolaan ini, mencakup bagaimana menggunakan data tinggi curah hujan, tanah, jenis tanaman, serta distribusi dan topografi wilayah. Melalui sebuah program, dengan dibantu NGO, pihak universitas berusaha membangun komunikasi dengan petani-petani pengelola irigasi dalam upaya membangun pengetahuan yang aplikatif namun dapat dipahami bersama.

Metode dalam studi ini menggunakan pendekatan riset aksi yang partisipatif dan interaktif (interactive participatory action research approach). Riset aksi ini dilakukan secara terbuka, dengan melibatkan pula ahli-ahli sosial dari pihak universitas dengan pendekatan interdisiplin.

Dua bagian pokok “riset” dan “aksi” dibahas melalui perspektif ilmu pengetahuan (knowledge perspective). Tim melakukan analisis poses (process analysis). Universitas yang terlibat adalah University of Cuenca (Equador) dan K.U. Leuven (Belgia). Dua lembaga riset terlibat dari University of Cuenca adalah PROMAS (Program for the Management of Soil and Water) dan ACORDES (Organizational Consultancy for Development). NGO yang terlibat disebut sebagai lembaga besar dan berpengalaman semenjak tahun 1960-an. Dilakukan wawancaran mendalam dengan pihak-pihak kunci (key stakeholders), observasi tentang bagaimana interaksi berlangsung sehari-hari, dan penelaahan dokumen. Dilakukan pula analisa kualitatif berkenaan dengan interaksi-interaksi yang penting (significant interaction) dalam keseluruhan proses.

Temuan Penelitian dan Diskusi

Dalam proses ini, pengetahuan terbuka (explicit knowledge) maupun tertutup (tacit knowledge) telah berhasil saling dipertukarkan antar pelaku. Pengetahuan tentang panduan untuk organisasi irigasi dibawa oleh NGO dipertemukan dengan ilmu teknik dari universitas. Berbagai pengetahuan yang selama ini tersimpan (tacit knowledge) yang dimiliki berbagai komunitas petani pun berhasil dibongkar atau diekternalisasi (externalized). Pertukaran pengetahuan berjalan melalui dua arah, yaitu pihak pengguna atau petani menjadi paham bagaimana pihak ahli teknik memaknai software, dan pihak pembangun software juga tahu apa harapan pengguna terhadap software tersebut. Berkerja bersama dalam komputer yang sama merupakan contoh pertukaran pengetahuan yang tertutup (exchanging tacit knowledge) yang dinilai cukup berhasil. Praktek langsung di lapangan telah membantu peserta lebih paham satu sama lain tujuan dan harapan tanpa perlu mereka mengungkapkan secara verbal apa tujuan dan harapan masing-masing.

Dari proses keterlibatan NGO, dan perubahan perannya dalam proses yang berlangsung, memberi pelajaran bahwa peran sebagai penghubung (intermediary) tidak dapat menggantikan sosialisasi langsung pengetahuan-pengetahuan tersembunyi antar komunitas. Dijumpai pula bagaimana akhirnya interaksi pihak semakin menjadi logis dari waktu ke waktu. Peran universitas yang semula hanya penelitian di bidang software (general ‘research on’ software), berubah menjadi posisi “meneliti dengan” (‘research with’). Terjadi proses refleksi bersama (joint reflection), pembangunan bersama (joint development) dan pengujian bersama (joint testing) dari teknologi yang akan digunakan.

Komunikasi berlangsung melalui beragam jenis event mulai dari berupa rapat biasa, saat memasang instalasi, dan berkerjasama di depan komputer. Relasi ini bisa sangat merusak, karena apa yang semula dipandang pihak universitas sebagai software yang matang, bagi petani tidak, sehingga harus mengalami perubahan mendasar. Berlangsungnya praktek bersama melalui relasi yang berkualitas telah memungkinkan mengkomunikasikan secara langsung pengetahuan-pengetahuan yang tersembunyi, serta memungkinkan mengkomunikasikan pengetahuan yang terbuka. Diakui, hasil studi ini telah berhasil mendapatkan berbagai pengetahuan baru bagaimana semestinya komunikasi dan relasi antar pelaku dijalankan dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Hal-hal seperti ini sebelumnya kurang berhasil diungkap dalam studi-studi dengan pendekatan riset.

Ditemukan pula bagaimana telah terjadi peningkatan transformasi kerja sebagai stakeholders yang menemukan konteksnya dalam penciptaan pengetahuan, serta menjembatani batas keterlibatan komunitas dalam praktek. Ini terjadi melalui proses eksteranlisasi pengetahuan-pengetahuan yang berguna (externalizing mutual knowledge) dan membagi pengetahuan dengan terlibat dalam praktek-praktek sehari-hari dengan memperhatikan kualitas hubungan (quality of relationships).

Catatan:

Meskipun ini merupakan sebuah riset yang kurang umum, karena menggunakan pendekatan riset aksi, namun terbukti hasil yang diperoleh sangat bermanfaat. Selama ini, saya menduga pihak peserta proyek tidak dilibatkan secara partisipatif, sehingga mereka tidak berkesempatan mengkomunikasikan pengetahuan-pengetahuan mereka yang tersembunyi (tacit knowledge) kepada pihak lain. Riset ini memberi saya kepekaan baru dalam melihat objek penelitian, serta memberikan variabel dan indikator baru untuk objek ini.

****