Kamis, 28 Oktober 2010

Tindakan kolektif dalam perbenihan

Peran Tindakan Kolektif dalam Sistem Perbenihan Informal

Sumber tulisan: Lone B. Badstue, Mauricio R. Bellon, Julien Berthaud, Xo chitl Ju´ arez, Irma Manuel Rosas, Ana Mar´ıa Solano, and Alejandro Ram´ırez. 2006. ”Examining the Role of Collective Action in an Informal Seed System: A Case Study from the Central Valleys of Oaxaca, Mexico”. Human Ecology, Vol. 34, No. 2, April 2006 (_C 2006). DOI: 10.1007/s10745-006-9016-2. Published online: 17 May 2006. http://proquest.umi.com/pqdweb?index=1&did=1092911211&SrchMode=1&sid=9&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1251870292&clientId=45625

Signifikansi, Tesis, Tujuan dan Metode Riset

Riset ini mempelajari tatanan sosial (social arrangements) berkaitan dengan pertukaran benih antara petani kecil jagung di Central Valleys Oaxaca, Mexico, dimana tidak ada sistem penyediaan benih secara formal yang eksis. Enam komunitas yang dipelajari adalah San Pablo Huitzo, Santo Tom´ as Mazaltepec, San Lorenzo Albarradas, San Agust´ın Amatengo, Santa Ana Zegache, dan Valdeflores.

Jagung merupakan tanaman pokok (staple crop) di Mexico khususnya pada golongan miskin, dimana 80 persen pertanaman jagung di Mexico diusahakan oleh petani yang menggunakan benih sendiri (farmer-saved seed). Meskipun sudah banyak riset dijalankan, namun masih menjadi pertanyaan bagaimana sistem lokal mampu mewadahi penyediaan benih antar petani dan rumah tangga. Keberadaan sistem penyediaan benih lokal merupakan hal penting tidak hanya untuk kehidupan masyarakat pedesaan, namun juga dalam upaya program konservasi dan evolusi keberagaman tanaman di pertanian.

Penggunaan benih yang hanya dari benih sendiri menyebabkan kurang beragamnya jenis varietas jagung yang ditanam. Hal ini melemahkan daya eksistensi jagung secara keseluruhan jika penanaman didominasi hanya oleh beberapa varietas. Struktur dan evolusi keragaman genetis jagung tergantung pada akses petani terhadap berbagai jenis varietas jagung, yang mana ini berlangsung dalam jaringan informal (informal flow) antar petani dan komunitas. Hal ini bergantung pada dua hal yaitu jaminan bahwa petani tergantung pada sistem tersebut untuk memperoleh varietas baru dan dukungan petani untuk menjaga keberagaman penggunaan benih jagung di ladang-ladang mereka.

Riset di Meksiko ini dipandang penting, karena hasilnya dapat diaplikasikan di wilayah lain, bahkan untuk tanaman pertanian lain. Jagung misalnya juga menjadi tanaman utama bagi petani di wilayah lain Amerika Latin dan sub-Sahara Afrika. Pengetahuan ini sangat berguna untuk menyukseskan program pengembangan biodiversitas tanaman jagung.

Dua komponen pokok yang dikaji dalam studi ini adalah tentang tatanan sosial (social arrangements) dan transaksi benih yang menjamin adanya keberagaman penggunaan benih antar petani. Tujuan studi adalah mempelajari peluang untuk meningkatkan produktivitas jagung sembari menjaga keberagaman genetisnya. Tesis utama studi adalah bahwa tatanan sosial merupakan pembentuk aliran benih dan informasi benih. Struktur ini menjadikan petani bergantung padanya.

Dari berbagai sumber, peneliti memaknai tindakan kolektif sebagai suatu tindakan yang melibatkan beberapa aktor dan diarahkan kepada keinginan atau tujuan tertentu yang dibagi di antara mereka (“collective action involves several actors and is directed towards a certain interest or purpose shared by them”). Apa yang disebut sebagai bentuk-bentuk kolektif dapat mewujud dalam berbagai bentuk, mulai dari bentuk organisasi formal sampai pada hanya seperangkat kesepakatan tentang hak dan tanggung jawab berkenaan dengan pengelolaan satu sumber daya bersama. Pelembagaan tindakan kolektif akan menjadi sebuah entitas sosial sebagai sebuah unit yang homogen.

Benih merupakan komoditas yang unik, karena ia sekaligus sebagai barang yang memiliki karakteristik privat dan juga publik. Secara materi ia menjadi benda privat, namun dalam hal komposisi genetis yang terkandung di dalamnya, ia merupakan barang publik karena banyak orang bisa memilikinya sekaligus.
Riset ini menggunakan wawancara mendalam semi terstruktur terhadap 22 orang informan kunci dari 3 komunitas (Zegache, Albarradas, dan Huitzo), melakukan 12 kali FGD, dan penggalian beberapa data kuantitatif dengan menelusuri aliran benih antar rumah tangga petani yang mancakup ratusan petani pria dan wanita. Metoda terakhir ini disebut penulisnya dengan “tracer study” yaitu mengikuti aliran benih antar petani. Riset ini menguji hipotesis bahwa petani secara individual memiliki insentif yang kuat untuk terlibat dalam berbagai bentuk tindakan kolektif untuk menjamin aksesnya terhadap benih.

Temuan Riset

Pertanian jagung telah memainkan peran penting dalam kehidupan petani, ketahanan pangan, dan konservasi keragaman genetik di lokasi studi. Petani di wilayah ini dicirikan oleh produktivitas yang rendah, penguasaan lahan sempit, dan jagung ditanam lebih dari 90 persen total areal. Meskipun satu unit penyedia benih formal telah eksis dan berkembang di wilayah studi, dimana hampir semua jenis jagung diusahakannya; namun, hampir seluruh petani memenuhi benih dari ladang mereka sendiri (depend on themselves). Petani menyimpan benih dari hasil panen musim sebelumnya, atau dari petani tetangga mereka.

Tidak ditemukan organisasi formal yang berbasiskan tindakan kolektif yang berperan memediasi aliran benih. Traksaksi benih berlangsung dalam bentuk relasi dua belah pihak (bilateral). Kondisi ini berdampak pada upaya mencapai keberagaman genetis (genetic diversity) karena sistem penyediaan (supply system) benih kurang berjalan ideal.

Para petani umumnya menyimpan sendiri benih untuknya dan jarang memperolehnya dari luar. Hanya 47,3 persen petani yang kadang-kadang memperoleh benih dari sumber-sumber di luar. Khusus untuk benih tertentu, misalnya yang memiliki biji putih (white grain), 64,9 persen petani mencari dari sumber di luar. Riset juga menemukan bahwa petani sesungguhnya tertarik pada penanaman benih jagung yang beragam. Secara rata-rata, petani menanam 1,6 jenis varietas jagung per rumah tangga, dengan angka maksimum adalah 2,13 jenis varietas per rumah tangga.

Petani dalam kelompok lebih berpeluang untuk menerapkan keragaman genetik jagung dibanidngkan secara individual, serta juga membutuhkan biaya yang lebih rendah dan menekan peluang terjadinya kerugian. Namun, dibutuhkan insentif yang jelas sehingga petani mau berkerjasama untuk menyediakan benih dan informasi untuk tercapainya keragaman penanaman berbagai varietas jagung. Beberapa bentuk aksi kolektif tradisional yang eksis adalah “t´equio” (= kelembagaan kelompok kerja) dan “guelaguetza” (= lebih kurang seperti “arisan” rumah tangga).

Alasan utama petani memberikan benih kepada petani lain adalah karena tanggung jawab sosial. Mereka merasa secara moral bertanggung jawab memberi benih kepada petani yang meminta. Meskipun pertukaran ini kadangkala melibatkan uang, namun alasan pertukaran tersebut tidak bisa dipahami dalam konteks pembayaran per se. Sebagian besar transaksi tanpa ada kewajiban segera, kecuali untuk peminjaman benih.
Anggota keluarga (extended family) sendiri merupakan sumber utama perolehan benih. Sebagian besar transaksi terjadi antar orang yang sudah saling kenal, dan telah memiliki kewajiban timbal balik (mutual obligation) yang dipahami bersama. Kepercayaan merupakan unsur utama dalam transaksi. Telah terbangun sebuah transaksi yang sesunguhnya sistematis. Transaksi berupa pemberian berlangsung dalam keluarga atau sebagai sebuah hadiah, sedangkan transaksi jual beli berlangsung dengan orang luar. Pada transasksi jual beli, jarak sosial (social distance) tampak lebih lebar.

Ada tiga parameter yang teridentifikasi untuk menganalisa tindakan kolektif antara petani, yakni kelompok petani, aturan atau praktek, dan keuntungan derivasi (derived benefits). Terlibat dalam tindakan kolektif merupakan jaminan bahwa petani tersebut akan mendapatkan benih pada waktu ia membutuhkan.

Catatan

Riset ini hanya meneliti bagaimana petani membangun relasi sesama mereka dan dengan pihak luar berkenaan dengan pemenuhan salah satu sarana dalam pertanian yakni benih. Disebutkan bahwa relasi yang terbangun umumnya merupakan relasi non formal, dimana petani cenderung mempertukarkan benih sesama mereka dalam bentuk transaksi bukan jual beli. Metoda penelususran (tracer study) mengikuti aliran benih untuk mendapatkan struktur relasi atau jaringan merupakan satu metoda yang menarik.

*****