Kamis, 28 Oktober 2010

Perilaku kewirausahaan

Perilaku Kewirausahaan Petani Peternak Perempuan

Sumber tulisan: B Subrahmanyeswari, K Veeraraghava Reddy dan B Sudhakar Rao. 2007. Entrepreneurial behavior of rural women farmers in dairying: a multidimensional analysis. Livestock Research for Rural Development 19 (1) 2007. Centro para la Investigación en Sistemas Sostenibles de Producción Agropecuaria, Cali, Colombia. Received 20 August 2006; Accepted 16 September 2006; Published 1 January 2007. http://www.lrrd.org/lrrd19/1/subr19015.htm

Latar balakang, tesis, tujuan penelitian dan metode

Data statistik menunjukkan bahwa sumbangan kaum perempuan dalam pendapatan nasional di India cukup besar, dimana aktifitas peternakan di pedesaan memainkan peran yang cukup besar sebagai penyumbang ekonomi untuk keluarga petani khususnya untuk kalangan perempuan. Laporan pemerintah India menyebutkan bahwa 85 persen perempuan di desa memiliki kaitan dengan aktifitas usaha peternakan (Viswanathan, 1989). Tambahan pula, berbagai studi juga mendapatkan bahwa perempuan memainkan peran yang besar dalam kegiatan usaha peternakan (Waghmare and Chaudari, 1989; Jain and Verma 1992; Prakash Singh et al, 2005). Masa depan industri peternakan tergantung kepada regenerasi dengan memaksimalkan partisipasi kewiarausahaan perempuan.

Dalam studi ini kewirausahaan (entrepreneurship) dibatasi sebagai “ … a form of human resource and entrepreneurial behavior depends on a number of factors like skill, knowledge of the enterprise, risk taking ability, achievement motivation, exposure to mass media, trainings received, and moreover, with innovativeness of the entrepreneur”. Tujuan riset ini adalah mempelajari perilaku kewirausahaan petani perempuan di pedesaan yang terlibat dalam usaha peternakan, faktor-faktor yang berkontribusi kepada perilaku kewirausahaan, serta hubungannya dengan karakter personal dan sosial ekonomi yang melekat pada diri mereka.

Penelitian dilakukan dengan metode ex-post facto research design dan teknik penarikan sample secara random, di wilayah Chittoor di distrik Andhra Pradesh, India. Total responden 120 orang yang terbagi atas 61 orang petani peternak berskala kecil (pemilikan 1 ekor sapi), 35 orang berskala sedang (pemilikan 2-3 ekor sapi), dan 24 orang berskala besar (lebih dari 3 ekor sapi). Pemilihan sampel dilakukan secara proporsional berdasarkan struktur skala usaha peternakan di wilayah tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara individual dan data dianalisa secara statistik.

Indeks perilaku kewirausahaan terdiri atas 8 komponen. Kedelaan komponen ini merupakan komponen yang valid yang dipilih dari 15 komponen. Nilai validitas diperoleh dari rata-rata skor yang dimiliki masing-masing komponen dari hasil penilaian 35 orang ahli yang berasal dari kalangan penyuluh dan perguruan tinggi. Kedelapan komponen tersebut adalah tingkat kewirausahaan, kepercayaan diri, orientasi terhadap resiko, motivasi untuk maju (achievement motivation), perilaku mencari informasi, orientasi keilmiahan (scientific orientation), pengetahuan terhadap aktifitas peternakan sapi perah, dan kemampuan membuat keputusan.

Hasil Studi dan Diskusi

Sebagian besar responden berada pada kategori sedang dalam hal partisipasi sosial yaitu 83,5% untuk peternak kecil, 71,0% untuk peternak sedang dan 66,5% untuk peternak besar. Pelatihan yang telah diterima relatif rendah, dan penguasaan lahan umumnya pada kategori sedang.
Dari sisi profil psikologis, mayoritas responden berada pada kategori sedang untuk orientasi nilai (value orientation) serta orientasi manajemen. Setengah dari responden memiliki level kategori sedang dalam hal perilaku kewirausahaan, sedangkan yang memiliki level rendah 21,0 persen dan level tinggi 29,0 persen. Pada responden berskala kecil, 53,0 persen dari mereka berada pada ketegori sedang untuk perilaku kewirausahaan. Kecenderungan ini disebabkan oleh perbedaan dalam penguasaan sapi, pengalaman berusaha, partisipasi sosial, orientasi manajemen, dan adopsi praktek inovatif dalam berusaha.

Hasil analisis juga menunjukkan bahwa motivasi untuk maju dan kemampuan membuat keputusan berada pada rangking 1 dan 2 pada peternak kecil dan sedang. Sebaliknya, tingkat keinovatifan dan kemampuan mengambil resiko merupakan faktor kurang penting pada kedua kelompok responden ini (lihat tabel lampiran).

Dari sisi motivasi untuk maju, peternak kecil seluruhnya ingin meningkatkan jumlah ternaknya atau mengembangkan usahanya. Peternak yang mampu membuat keputusan secara rasional memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Peternak skala kecil dan sedang karena khawatir kehilangan pendapatannya cenderung takut mengambil resiko. Hal ini menyebabkan rendahnya nilai perilaku kewirausahaan mereka.
Dari analisis data disimpulkan bahwa dari ketiga kelompok responden memiliki perbedaan dalam perilaku kewirausahaan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian lain yaitu Goud (1990) dan Gopalakrishna Rao (1985). Penyebabnya adalah perbedaan skala usaha. Ketiga kelompok responden peternak juga berbeda secara nyata dalam kepercayaan diri, perilaku mencari informasi, dan daya keinovatifan.

Dari hasil analisis korelasi dan regresi, faktor-faktor sosial ekonomi dan psikologis yang mempengaruhi perilaku kewirausahaan menunjukkan bahwa peternak perempuan (dairywomen farmers) memiliki perilaku kewirausahaan (entrepreneurial behavior) pada tingkat “sedang” dan bervariasi antar tiga kategori responden dengan tingkat signifikansi yang sangat nyata (P<0.01). Perilaku kewirausahaan terbukti berpengaruh positif dan secara signifikan berhubungan dengan penguasaan lahan (land holding), penguasaan sarana usaha (material possession), orientasi manajemen, orientasi nilai (value orientation), dan pendapatan dari usaha peternakan; masing-masing dengan nilai P<0,01 (= sangat nyata). Dua faktor lain yang juga berpengaruh nyata (P<0.05) adalah variabel pendidikan dan tingkat keinovatifan (innovativeness). Sebagian besar variasi dari perilaku kewirausahaan telah dapat diterangkan dari faktor pengalaman dalam berusaha, partisipasi sosial, pelatihan yang telah diterima dan pendapatan yang telah diterima dari usaha ini.

Penguasaan lahan memiliki pengaruh yang negatif, karena peternak dengan luasan lahan yang sempit dapat lebih berkonsentrasi pada usaha peternakannya. Peternak dengan orientasi manajemen tinggi memiliki relasi dengan perilaku kewiusahaan yang juga lebih tinggi.

Meskipun ini merupakan studi kuantitatif, namun temuannya berupa variabel-variabel yang berpengaruh nyata merupakan pengetahuan yang sangat berguna, khususnya tentang karakter yang melekat pada individu.

*****