Kamis, 28 Oktober 2010

Organisasi petani lahan kering

Karakter Organisasi Lokal Petani di Wilayah Lahan Kering

Sumber tulisan:
Satyawan Sunito dan Saharuddin. 2001. Farmer Organizations in Upland Natural Resource Management in Indonesia. Southeast Asia Policy Research Working Paper, No. 29. This report is part of the ASB Project in Indonesia. The Asian Development Bank, under RETA 5711, financially supported this specific work.

Latar Belakang, Tujuan Studi, dan Metode Studi

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di lahan kering cenderung kurang banyak diungkap, dibandingkan dengan di lahan basah (sawah), termasuk organisasi petaninya. Keberadaan organisasi petani diyakini juga dipengaruhi oleh lingkungan dimasa masyarakatnya hidup dan pola aktivitas hidup yang mereka jalani.
Paper ini ditulis dari studi yang dilakukan di berbagai wilayah untuk merepresentasikan berbagai kategori sosio ekologis di Indonesia. Penelitian mendalam dilakukan di Jawa Timur dan Tengah untuk mewakili wilayah berpenduduk padat, Kalimantan Timur untuk wilayah dengan penduduk jarang, dan Lampung untuk wilayah dengan penduduk sedang.

Tujuan studi adalah untuk memberikan pemahaman secara luas tentang organisasi petani (farmers led organizations) dalam konteks memahami kegiatan manajemen sumber daya alam di Indonesia. Peneliti ingin mempelajari berbagai aspek penting yang menentukan pengembangan penggunaan lahan di wilayah lahan kering (uplands) di Indonesia. Untuk menghindari overgeneralization, maka analisis dibedakan antara wilayah dengan penduduk padat dan jarang.

Informasi dikumpulkan dari berbagai hasil penelitian dan evaluasi laporan kegiatan, publikasi NGO tentang aktivitasnya, dan wawancara dengan petani. Perbandingan dilakukan antara berbagai kelompok petani dalam konteks kelembagaannya (institutional aspects), tujuan organisasi, dan hasil kegiatannya. Analisa data berupa analisa pola dan kecenderungan (analysis of patterns and trends) dikaitkan dengan aktivitas dan pengembangan organisasi yang dijalankan petani .

Beberapa metode digunakan untuk mengumpulkan data, yakni: (1) review literatur yang dikombinasikan dengan kunjungan kepada organisasi-organisasi petani yang memiliki kerjasama dengan NGO, (2) mewawancarai NGO dalam hal pengalaman dan metode yang mereka aplikasikan dalam bekerjasama dengan petani dan organisai petani di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur, serta (3) mengunjungi organisasi petani di Lampung dengan mewawancarai petani dan pekerja lapang dengan wawancara semi terstruktur. Secara keseluruhan, termasuk review dokumen, kasus-kasus yang diangkat dalam studi ini berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan NTB.

Temuan dan Diskusi Studi

Dari isi karakter komunitas petani, petani yang diteliti di Jawa Timur dicirikan oleh topografi berbukit dan langkanya sumberdaya air, namun tidak demikian pada kasus-kasus di luar Jawa. Dari sisi penguasaan lahan, di Jawa umumnya merupakan lahan individu dan komunal, sedangkan di luar Jawa dikuasai oleh suku. Usaha pertanian di lahan kering umumnya adalah jagung, ubi kayu, padi lahan kering, dan kacang tanah. Karena kegiatan di pertanian bersifat musiman, atau tidak sepanjang tahun, maka petani sering melakukan migrasi berdurasi pendek ke wilayah kota untuk mendapatkan pekerjaan lain. Hanya di Lampung dan Kalimantan ditemukan masyarakat asli yang masih sangat kuat terikat dengan tanah tempatnya hidup. Kepadatan penduduk umumnya rendah, kecuali di Lombok (NTB). Sebagian besar petani juga masih menerapkan pertanian bergilir (shifting cultivation) yang dikombinasikan dengan pertanian menetap. Semua kasus memiliki pengalaman pernah berkonflik dalam penguasaan tanah dengan pihak luar.

Dalam konteks rekayasa kelembagaan (institutional arrangements), dalam hampir seluruh kasus yang dipelajari, inisiatif dari pihak luar dalam terbentuknya organisasi petani merupakan hal penting. Mereka berasal dari pihak pemerintah, NGO, maupun swasta. Namun demikian, ditemukan pola intervensi dan tingkat efektfitas yang berbeda antara organisasi-organisasi petani di Jawa dan luar Jawa.
Organisasi petani merupakan bagian dari pendekatan kegiatan pembangunan pedesaan secara luas. Organisasi dibangun untuk memfasilitasi introduksi dan adopsi teknologi baru, mengefisienkan distribusi dan manajemen kredit, pembagian tanggung jawab, dan lain-lain. Ia menjadi komponen penting dalam berbagai program pembangunan pedesaan.

Dalam kasus dimana NGO sebagai inisiator khususnya di Jawa, organisasi petani dibangun untuk memberdayakan atau tepatnya untuk memperkuat posisi tawarnya dan kebebasannya menghadapi kekuatan pasar. Pembangunan jaringan juga dijalankan oleh mereka, termasuk membangun organisasi perempuan. Sementara di luar Jawa, motivasi dominan adalah untuk penyelesaian konflik pemanfaatan sumber daya alam. Organisasi petani memiliki karakter primordial yang kuat, karena terikat dengan historik pada penguasaan lahan yang sama. Konflik penguasaan lahan antara petani dengan pihak lain juga terjadi di Jawa, terutama dengan pihak kehutanan.

Ditemukan pula asosiasi regional kelompok petani yang memiliki perbedaan kekuatan dalam hal kesadaran berorganisasi. Organisasi terkuat ditemukan pada asosiasi petani Sumatera Utara, yang secara aktif juga berhubungan dengan organisasi level nasional, dan aktif dalam gerakan reforma agraria. Di sisi lain, beberapa asosiasi petani lokal banyak yang kurang terorganisir. Organisasi Aliansi Masyarakat Adat merupakan organisasi yang merepresentasikan asosiasi primordial dan aktif pada berbagai isu lingkungan dan poitik.

Dari berbagai organisasi petani yang dijadikan kasus penelitian, pencapaian organisasi merupakan variabel penting yang diperhatikan. Ditemukan berbagai bentuk pencapaian organisasi, yakni:
1. Pengalaman dalam masa kerja organisasi, karena berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi masalah, mencari solusi, mendapatkan pendanaan, melakukan pelatihan, meneliti dan memanajemen konflik.
2. Peningkatan pengetahuan dalam teknologi pertanian.
3. Pengetahuan dalam metode penelitian, karena ini sangat bermanfaat ketika petani berkerjasama dengan pihak luar dalam mengembangkan suatu teknologi
4. Jaringan dengan lembaga pendukung petani, dengan asosiasi di level regional dan nasional, dan dengan kalangan akademisi.
5. Akses terhadap sumberdaya terutama lahan.
6. Kesadaran politk, karena petani dilatih untuk kritis terhadap kondisi yang dihadapinya.
7. Manajemen sumberdaya alam

Penulis paper ini juga menemukan berbaga tipe dan trend dalam perkembangan organisasi petani. Ada empat tipe organisai didasarkan pada kekuatan yang mendorong petani untuk memperkuat dan memformalkan kerjasama mereka. Tipe-tipe tersebut adalah: (1) organisasi petani yang didorong oleh pemerintah dan perusahaan swasta, (2) organisasi yang pembentukan dan penguatannya didukung oleh NGO yang memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat pedesaan, (3) organisasi yang terbentuk dari dalam oleh petani sendiri yang didorong oleh perjuangan untuk penguasaan lahan dan melawan tekanan luar, dan (4) organisasi yang terbentuk karena solidaritas masyarakat adat.

Dari berbagai kasus terlihat bahwa inisiatif dari luar, terutama dari NGO dan pemerintah, merupakan faktor esensial dalam pembentukan dan penguatan organisasi lokal petani. Motif-motif yang bentuknya oportunis, sebagaimana banyak program pemerintah, hanya memberikan perkembangan organisasi petani yang lemah. Selain itu, jaringan sosial merupakan elemen penting yang akan memperkuat organisasi petani.
Berbagai faktor internal yang mempengaruhi organisasi petani adalah faktor homogenitas yang sering diyakini sebagai elemen dasar membangun organisasi. Namun, studi ini tidak menemukan homogenitas sebagai hal penting. Pointnya justeru pada bagaimana kemampuan adaptasi, yaitu seberapa jauh dan cepat beradaptasi, menghadapi kondisi-kondisi baru. Banyak organisasi petani yang eksis justeru tidak memiliki homogenitas yang tinggi. Homogenitas diindikasikan dari level ekonomi, etnisitas dan pandangan umum.
Dari sisi aktivitas bertani, pekerjaan bertani yang musiman memberi alasan yang kuat untuk saling berkerjasama. Faktor lain adalah tipe penguasaan lahan, dimana penguasaan lahan secara komunal merupakan basis yang kuat untuk terciptanya organisasi petani yang kuat.

Sementara, faktor-faktor luar yang mempengaruhi perkembangan organisasi petani adalah sifat intervensi dari luar. Dengan aksesibilitas yang terbuka, mereka akan lebih mudah dikontrol oleh pihak pemerintah. Faktor kota-desa juga penting, dimana desa yang dekat dengan kota mempengaruhi solidaritas sosial masyarakatnya dan potensi untuk berorganisasi. Jaringan antar organisasi juga sangat penting baik secara horizontal dengan sesama organisasi petani, maupun vertikal dengan NGO, pemerintah, dan swasta.

Catatan

Paper ini memaparkan keberadaaan dan bagaimana petani berorganisasi secara formal. Penulisnya berupaya mendapatkan pola, serta tipe dan kecenderungan organisasi petani, melalui perbandingan antar organisasi di berbagai wilayah lahan kering di Indonesia. Objek yang dipelajari tidak mendapat perlakuan yang sama, dimana ada organisasi yang dikunjungi dan diwawancarai secara langsung, sedangkan yang lain tidak karena hanya mengandalkan pada penelaahan dokumen. Hal ini merupakan point yang dapat dianggap sebagai kelemahan studi ini.

Di sisi lain, analisa yang dilakukan juga tidak dipaparkan secara jelas, dimana level kedalaman analisa antar objek tidaklah sama. Penarikan kesimpulan dari data dan informasi yang terkumpul juga tidak dijelaskan secara tegas dan detail.

Berorganisasi secara formal hanya merupakan salah satu opsi yang dapat dipilih petani dalam menjalankan usaha agribisnisnya. Berorganisasi atau tidak tergantung pada homogenitas anggota organisasi, motivasi pembentukan organisasi, basis ikatan horizontal antar petani, historik relasi dengan pihak luar, serta bentuk dan tingkat intervansi pihak luar terhadap organisasi petani.

*****